Copyright : A never-ending story (Part II)

Dulu tuh rasanya enggak gaul banget kalau beli album atau film bajakan seharga 10.000/disc. Tapi sekarang, kalau enggak cinta-cinta amat sama artisnya, mending download atau nge-YouTube enggak sih ? well, semoga para pembaca blog ini masih sangat menghargai copyright dengan menjawab ‘enggak’ ya.

Harus diakui, adanya teknologi merubah definisi copyright, dulunya ‘hak cipta’ itu kesannya kaku, dimana audience seolah enggak punya ruang untuk mengakses konten itu (illegally) dimana ‘memaksa’ audience buat mengeluarkan uang lebih untuk mendapatkan sebuah konten. Sekarang ? adanya teknologi yang interaktif menyediakan ruang bagi audience untuk ikut berpartisipasi dalam ‘pembuatan’ konten, dan menurut saya hal ini sah-sah saja selama positif. Contoh ? ada sebuah website Kshowshow yang menyediakan konten hiburan Korea secara gratis. Padahal, seharusnya konten ini hanya tersedia di TV kabel saja. Hebatnya lagi, seluruh video yang di upload ke website ini sudah dilengkapi English subtitle yang enggak ada di siaran TV kabel. Bagi mahasiswi yang mini fasilitas TV kabel keberadaan website ini jelas merupakan surga duniawi.

Tapi kemudian, lambat laun berbagai banner iklan menghiasi halaman website ini. Belum lagi terdapat opsi ‘donasi’ yang dapat dilakukan user. Jadilah saya mulai bertanya, bener enggak sih yang dilakukan Kshownow ini ? saya tau kalau dari awal, kshow memang melanggar copyright dengan menayangkan tayangan yang seharusnya hanya dapat diakses TV kabel.

Di sisi lain, kalau dilihat secara positif, Kshownow dan stasiun pemilik konten hiburan justru melakukan proses saling menguntungkan kan ? konten stasiun televisi Korea yang seharusnya hanya memiliki target market nasional, karena adanya Kshow menjadi dikenal dan digemari publik global. Kalaupun pada akhirnya Kshow mengambil keuntungan, ya anggap aja upah translate. Gampangnya sih gitu, tapi masalahnya kan bukan cuma stasiun televisi saja yang terlibat dalam hal ini, bagaimana dengan penyedia layanan TV kabel ? belum lagi sekarang Kshownow melakukan monopoli konten, dengan membatasi akses pengguna (hanya dapat menonton, namun tidak mengunduh) jika user ingin mengunduh konten, maka ia harus subscribe menjadi premium user. Nah loh, jadi Kshownow melakukan ‘copyright’ terhadap konten yang memiliki ‘copyright’ pihak lain dong ?

Intinya, dari sepenggal tulisan (yang cukup panjang ini) saya ingin memperlihatkan bagaimana perubahan teknologi telah merubah definisi ‘copyright’ dan juga tindakan kita terhadap hal tersebut.

 Pada akhirnya, cerita mengenai ‘copyright’  merupakan awal tanpa akhir. Kalaupun harus berakhir, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah pertanyaan.

 Apa kita (memang) tidak tahu, atau (berusaha) tidak tahu mengenai copyright ?

Apa adanya internet seolah ‘membolehkan’ kita untuk mengabaikan ‘copyright’ ?

dan …

Apa iya semua orang di dunia sedang beramai-ramai melakukan hal ini ?

Maaf ya, semoga enggak jadi bingung habis baca tulisan ini, dan boleh banget bantu jawab pertanyaan saya di atas. Cheers!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s