Antara Rupa dan Isinya

Saya termasuk salah satu dari (mungkin sejuta orang di luar sana) yang mupeng (muka pengen) setelah liat design iPhone 5S.

(news.cnet.com)

(news.cnet.com)

Despite its application, the design itself is absolutely brilliant. Menariknya, setelah publik dibuat ‘terpana’ dengan inovasi Apple, Samsung nggak tinggal diam. Mereka meluncurkan sebuah gambar Samsung Galaxy S4 gold version

Akan ada banyak tanggapan mengenai hal ini, beberapa (mungkin) beranggapan bahwa Samsung ‘meniru’ inovasi iPhone 5s, sementara beberapa lainnya, termasuk saya percaya bahwa memang itulah dinamika industri. Sama halnya ketika Apple meluncurkan iOs 7 yang menurut saya mirip dengan sistem operasi Android, atau, ketika Apple pada akhirnya mengeluarkan tablet berukuran 7.9 inch (iPad Mini) seukuran dengan Galaxy Tab yang telah lebih dulu sukses. Keduanya ribut soal plagiarisme, tapi di sisi lain, saya yakin bahwa keduanya juga diam-diam saling ‘belajar’.

Ketika iPhone 5s diperkenalkan ke publik, saya pesimis edisi ini akan meledak di pasaran. Tapi nyatanya, iPhone 5 ludes hanya beberapa hari setelah diluncurkan (CNN) fitur spesial yang ditawarkan adalah pengenalan sidik jari, selebihnya tidak begitu berbeda dengan iPhone 5. Sama seperti edisi sebelumnya, iPhone 5s menjual keamanan dan kenyamanan pengguna. Kontras dengan Samsung yang terkenal ‘murah fitur’ dan mudah di utak-atik, perbedaan yang sangat mendasar ini membuat keduanya memiliki pasar sendiri. Hal ini juga mengindikasikan adanya ‘ideologi’ berbeda yang menunggangi di belakangnya, dan pengguna mau tidak mau, sadar tidak sadar sedang di dominasi kekuatan tersebut, well back to the topic !

Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya semahal apapun smartphone yang kita beli, coba lihat deh aplikasi yang ada di dalamnya. Mostly, isinya bakal seputar aplikasi chat, photography, atau game. Dulu sih saya ngeh kenapa iPhone booming di pasaran, karena di saat itu semua platform social media (Instagram, Line, Path) cuma compatible dengan iOs. Semuanya berubah ketika Google mengambil alih Android, dan Instagram dibeli oleh Facebook, aplikasi yang (dulunya) eksklusif bagi pengguna iPhone saja, sekarang dapat diunduh secara bebas, dan gratis di smartphone apapun.

Yang terjadi kemudian ? penjualan gadget berbasis Android laris manis di pasaran, namun iPhone juga tidak serta merta mati. Poin yang ingin saya sampaikan adalah, saat ini kita hidup dimana gadget bukan lagi satu-satunya hal yang diperhitungkan oleh pengguna, kita berbicara mengenai platform. Sebuah smartphone dengan RAM besar, dan resolusi tinggi kecil kemungkinannya akan sukses jika tidak kompatibel dengan berbagai platform yang umum digunakan.

Memang, di sisi lain akan ada orang-orang yang bersebrangan dengan anggapan saya Gibson menjelaskan prinsip affordances, dimana manusia memanfaatkan segala hal sesuai dengan persepsi yang mereka terima. Mungkin saja sebuah smartphone yang bahkan tidak kompatibel dengan platform apapun tetap ada pembelinya. Karena toh, bagaimana penggunaannya tetap ada di tangan pembeli. Pada intinya, Industri teknologi akan terus berkembang melahirkan berbagai inovasi, yang seolah ‘memaksa’ kita untuk terus mengonsumsinya.

Tapi coba deh, kalau yang penting platform-nya, kenapa harus ‘rajin’ ganti smartphone ? gampangnya sih … ngapain gonta-ganti smartphone mahal, kalau isinya sama aja kaya yang murah ? :p cheers !

Whatever the gadget, you could always have twitter on yours ;)

Whatever gadget you own, you most likely to have this on yours (twitter).

Advertisements

One thought on “Antara Rupa dan Isinya

  1. Pingback: Pertemuan keempat dengan si “Dia yang Mendua” | Catatan Bangku Kuliah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s