When User is No Longer ‘Passive’

(I didn't own this picture, got it from 9Gag)

(I didn’t own this picture, got it from 9Gag)

I laughed so hard when I first saw this picture, yap ! this is exactly happening on today’s society.

Kalau dipikir-pikir, iya sih kenapa ya punya banyak platform dengan isi yang sama ?

  1. Ya pengen aja sih, abis yang lain pada punya. Kalo ga punya ntar ga eksis !
  2. Fungsinya dan fiturnya kan beda-beda, jadi platform-nya juga harus banyak.
  3. Biar khusus aja, facebook buat kenalan sama orang baru, twitter buat curhat, dan instagram buat pamer foto.
  4. Lainnya …

Well, jawabannya (niscaya) akan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tapi tenang, ini bukan ramalan yang akan menentukan kepribadian anda, jadi bebas mau pilih yang mana aja. Sama juga kaya penggunaan media, seiring dengan berkembangnya jaman user semakin dan semakin aktif lagi dalam memilih konten, platform yang akan mereka gunakan. Sekarang sih, user nggak lagi ‘disuapin’ sama media, mereka mulai mencari makanannya sendiri.

Dan ! motivasi, alasan user dalam menggunakan media pun beragam, nggak lagi as simple as ngambil alasan mayoritas sebagai kesimpulan perilaku audience.

Cerita dikit ya, dulu waktu SMP, saya termasuk salah satu siswi yang menghabiskan sebagian besar uang jajannya untuk ke warnet. Dulu itu, per-jamnya masih 2000, dan saya bisa tahan 5 jam di warnet buat cari layout Friendster, ganti shout, upload foto-foto lucu dan balesin comment.

Old Friendster Layout

Old Friendster Layout

Hal ini bertahan sampe SMA kelas 1, ketika kemudian Facebook lahir dengan kecanggihan barunya, bisa ganti status kapan aja, upload foto sebanyak-banyaknya, dan paling penting ! dulu itu kalau di friendster, bakal keliatan kalau misalnya kita viewing user lain, sedangkan Facebook ga punya fitur kaya gitu, jadi bisa bebas kepo! ha ha ha.

Setelah asik mainan facebook, lama-lama mulai banyak ‘virus friendster’ masuk ke Facebook. Bentar, saya jelasin dulu. Jadi, dulu itu kalau di friendster, user ga harus punya email buat bikin akun, jadi nama yang bakal di display juga suka-suka. Sedangkan, ketika awal facebook ini muncul, semua akun harus dibuat dengan real name, karena pake email. Nah, tapi lama-lama mulai muncul fake account dan akun-akun bernama ‘aneh’ yang sekarang dijelaskan dengan term alay.

Ketika hal ini terjadi, jadilah saya pindah lagi ke twitter. Sekalipun ga bisa sepanjang status Facebook, dengan 140 karakter saya bisa tulis apa aja yang saya mau, dan sebenarnya salah satu hal yan melatarbelakangi saya bikin twitter adalah bisa chat sama public figure, aduh ini kedengerannya cheesy banget ya. Tapi beneran deh, adanya twitter membuat saya bisa ngerasa lebih deket sama orang-orang yang biasanya cuma ada di TV, bahkan ! bisa ngobrol langsung. Hal ini yang belom pernah ditawarkan oleh facebook dan friendster.

Saya cukup lama bertahan dengan twitter, hingga akhirnya muncul instagram konsepnya mirip sama twitter, bedanya adalah content yang bakal di share. Kalau twitter isinya barisan huruf, instagram berisi barisan foto.

Dari sepenggal cerita saya di atas, dapat terlihat bahwa saya sebagai user aktif memilih social media yang akan saya gunakan, bukan itu saja, terlihat pula bagaimana saya ‘menyiasati’ kelemahan dari satu social media, dengan membuat akun social media lainnya. Jadi, sekalipun media punya power, untuk menawarkan fitur-fitur social media, saya juga punya power untuk memilih. Sebuah bukti yang bisa kita lihat, dari ‘kekuatan user’ adalah bangkrutnya situs friendster, karena tidak mampu bersaing dengan social media lain di masa itu. Friendster sekarang beralih menjadi sebuah situs game online sedih deh, begitu buka dan ternyata bukan situs kesayangan saya jaman SMP, anyway !

Yang ingin saya sampaikan adalah, media dan user tidak lagi ‘sesimpel’ itu. Seperti apa yang saya sampaikan di awal, hubungan media dan user tidak lagi pasif dan searah seperti anak yang disuapin ibunya. User sekarang jauh, dan akan lebih aktif lagi. Sehingga, paradigma kita melihat hubungan ini juga tidak bisa stagnan. Nggak cuma soal penelitian aja loh ! as simple as ketika kita membuat sebuah keputusan kecil untuk berpendapat, jangan melihat mayoritas sebagai ‘fenomena’, karena ternyata ada kekuatan-kekuatan kecil yang berada di bawahnya, dan ada konteks tertentu terhadapnya.

Generalization isn’t cool anymore (ups!). No hurt feeling, cheers !! :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s