Remix ≠ Joke

I assumed that you’ve already watched The Hunger Games, since it made a huge success last year (well, one of my friend has become a greatest fan of  Jennifer Lawrence after watched that, and maybe he’ll bite me up after reading this) but anyway!

Watch this !

I could just die from laughter after watching it (or maybe it was just me). Sebenarnya (mungkin) karena saya nonton versi aslinya, which to some extend, I quite agree with this end version. Realistis ! jadi, buat yang belom nonton, versi asli film ini punya akhir yang super-happy-ending. Dimana, dua tokoh utama bener-bener niat bunuh diri, tapi dicegah sama panitia lomba Hunger Games (called as the Capitol),  jadilah kemudian mereka hidup berdua, bahagia, selamanya.

In contrast, di video ini ditampilin versi akhir yang lebih realistis. Well, you just wouldn’t give up your life just because madly in love with someone, would you ? seenggaknya, mungkin hal-hal ini yang sering direkonstruksi sama media. Apa-apanya soal cinta, harus berakhir bahagia dan sok-sok dramatisir. Agak sedih sih, secara sebenernya The Hunger Games punya cerita yang cukup menarik, memotret colonialism and its resistance. Tapi, akhirnya malah over-romantis, dan agak ‘menganggu’ pesan yang ingin disampaikan.

Lucunya lagi! video di atas nunjukkin, kalau Peeta berdiri di atas sebuah kotak kayu, supaya tingginya sama kayak Katnis. Haha! Maybe Peeta isn’t cool enough , or should ‘they’ changed the cast instead ?.

Adanya perkembangan teknologi saat ini, bikin siapa saja bisa melakukan proses produsage. Lebih-lebih lagi, ketika dulu cuma bisa ngomel karena nggak suka sama sebuah film, sekarang dengan adanya teknologi kita bisa nunjukkin kenapa kita nggak suka sama film itu, bahkan! bikin akhir yang kita suka, dan kasih tau ke orang-orang (made for public). Menariknya, it’s not simply because you hate this, some of them also talks about ideology and custom in our society.

Check this one !

Remix Disney-Mean Girls di atas, sepertinya pengen ngebongkar image Disney princess yang selalu jadi ‘cewek’ baik-baik. We’re not living in such a fairytale anyway, just get real !. Tapi di sisi lain, munculnya budaya remix saat ini seolah mengukuhkan kekuatan industri. Dimana, sekalipun kita bisa bikin ribuan remix product tentang produk industri yang enggak kita suka, toh sebenarnya hal itu tetap tidak menggoyahkan iman industri yang terus-terusan memproduksi hal yang sama. In the end, ‘remix cultures’ conduct some complex process within. It doesn’t as simple as you want to create a joke/parody through movie, there’s a message beneath.

Advertisements

One thought on “Remix ≠ Joke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s